
Senin, 01 Juni 2026 – Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Medan Koordinator Sumatera Utara sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,6%: Membaca Risiko Triple Pressure Economy dan Ketahanan Ekonomi Indonesia 2026”. Forum diskusi daring ini berhasil menyedot perhatian dan partisipasi aktif dari berbagai kalangan strategis lintas sektor, mulai dari akademisi, praktisi bisnis, perwakilan pemerintah, hingga para mahasiswa. Kehadiran berbagai elemen pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen ISEI sebagai wadah inklusif untuk membedah isu-isu ekonomi terkini yang krusial bagi masa depan bangsa.



Rangkaian acara dipandu dengan apik oleh Bapak Maf’ul Taufiq S.E., M.Si. selaku Master of Ceremony (MC). Kegiatan kemudian dibuka secara resmi melalui penyampaian kata sambutan oleh Ketua ISEI Cabang Medan Koordinator Sumatera Utara, Dr. Paidi, S.E., M.Si. yang menyoroti urgensi pemahaman komprehensif terhadap tantangan ekonomi makro saat ini. Memasuki sesi inti, jalannya pemaparan materi dari para pakar dipimpin langsung oleh Rikwan Manik, S.E., M.E. sebagai moderator, memastikan pertukaran gagasan berjalan interaktif dan terarah.

Tampil sebagai narasumber pertama, Endrizal Ridwan, Ph.D., memberikan sudut pandang kritis bahwa capaian pertumbuhan ekonomi tidak sepatutnya hanya dinilai dari besaran angkanya semata. Ia menekankan perlunya menelaah esensi dari kualitas pertumbuhan tersebut, yang mencakup pemerataan manfaat bagi masyarakat luas, terjaganya daya beli, dan jaminan keberlanjutannya dalam jangka panjang. Beliau juga menggarisbawahi bahwa tren pelemahan nilai tukar rupiah sejatinya turut merepresentasikan indikator krusial terkait tingkat kepercayaan publik terhadap kondisi perekonomian nasional.

Melengkapi analisis makro tersebut, narasumber kedua, Prof. Dede Ruslan, menjabarkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,61% harus dicermati secara holistik dan penuh kehati-hatian. Pasalnya, capaian positif tersebut masih dibayangi oleh tekanan fluktuasi rupiah, tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta tingginya ketidakpastian ekonomi global. Untuk memitigasi risiko tersebut, Prof. Dede menegaskan pentingnya menjaga stabilitas fiskal, membangun kredibilitas kebijakan, serta mempercepat langkah swasembada di sektor energi dan pangan yang beriringan dengan penguatan hilirisasi industri.

Sebagai penutup sesi pemaparan, narasumber ketiga, Coki Ahmad Syahwier, S.E., M.P., menyuarakan pandangannya terkait keraguan terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi saat ini, terutama di tengah bayang-bayang meningkatnya arus modal keluar (capital outflow) dan tekanan kuat pada nilai tukar. Sebagai langkah antisipatif, beliau menegaskan urgensi penguatan sektor riil serta perbaikan iklim investasi. Webinar ini pun ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang menghasilkan satu benang merah penting: sinergi yang kokoh antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi mutlak diperlukan guna mengawal dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi tahun 2026.
